Enam orang anak lelaki Sunda dengan pakaian tradisional. Memerhatikan raut muka dan model pakaian mereka agaknya mereka bukan berasal dari klas bangsawan (menak). Kita bisa perhatikan pakaian mereka berupa kain menyerupai sarung. Dua anak mengenakan kain bercorak serupa batik. Tiga anak memakai ikat kepala kain (iket), tapi semua bertelanjang kaki. Dengan latar sebuah rumah berhalaman luas, tampaknya lokasi foto ini diambil di depan rumah seorang pembesar.

Satu hal yang terbayang demi pengambilan foto ini adalah bagaimana anak-anak itu digendong satu persatu untuk didudukkan di atas tembok itu, dideretkan kaku mirip boneka untuk dilihat oleh para meneer dan mevrow. Tubuh anak2 pribumi yang dibuat kaku memandang ke arah kamera. Tubuh yang memandang kamera dengan ekspresi penasaran, takut, dan tegang. Tubuh anak2 pribumi yang diabadikan demi arsip kolonial.

Satu hal yang patut diragukan adalah apakah orang tua mereka mendapatkan foto anak-anak mereka ini.

Dan satu lagi yang layak dipikirkan, jangan-jangan satu di antara anak itu adalah leluhur Anda .

Foto ini diambil tahun 1896, koleksi Tropenmuseum (tanpa tahun)

Bagaimana cara menggunakan Google?

Di dalam kehidupan keluarga di Indonesia sekarang ini, keluarga tidak mengajarkan anak-anaknya berproduksi, mereka hanya diajarkan bagaimana mengonsumsi saja. Hasilnya adalah rakyat tidak tahu lagi bagaimana cara berproduksi, hanya jadi kuli, jadi suruhan saja dalam hidupnya.

Dan ketika mereka tidak bisa berproduksi, mereka berusaha dengan korupsi: membuat orang lain korupsi atau dirinya sendiri yang melakukan korupsi. Indonesia sekarang ini bersatu, tapi untuk hal-hal yang tidak benar. Saya kira ini jawabnya mengapa Indonesia sekarang ini jadi begini. Benar atau tidak, saya tidak tahu.

Pramoedya Ananta Toer, 2005

ON|OFF 2011 by Anies Baswedan

Assalamualaikum wr. wb.

Pertama, saya ingin sampaikan dulu apresiasi. Saya merasa mendapat kehormatan ketika Mas NdoroKakung kontak, memberi tahu Mas ini akan ada Pesta Blogger tahunan, dan saya diminta untuk berbagi sedikit pandangan Indonesia dengan lain. Saya merasa, wah, ini sebuah kehormatan, jadi  terima kasih, Mas, atas kesempatannya.

Tema yang dimunculkan di sini menarik. Ideas meet opportunities. Hari-hari ini, kita sering sekali bertemu dengan situasi where opportunity is there but people only see the difficulties in opportunity. Itu adalah biasanya disebut orang pesimis. Melihat opportunities tapi yang dilihat justru aspek sulitnya. Orang-orang optimis, terbalik. In difficulties, they see opportunities. So an optimist sees opportunities in difficulties, but a pessimist sees difficulties in opportunities.

Hari ini, saya merasa kita memiliki energi baru di sini. Ini adalah anak-anak muda baru Indonesia yang melihat tantangan di republik ini dengan persepsi yang positif, dengan pandangan yang optimis. Dan ini yang sebenarnya diperlukan untuk kita ke depan.

Teman-teman sekalian, kalau kita perhatikan, akhir-akhir ini dalam beberapa tahun terakhir ini, kita mengalami hempasan pesimisme yang luar biasa. Segala yang kita lihat di republik ini kita lihat dengan pandangan: so many problems. Begitu banyak masalah. Memang harus diakui, Indonesia ini banyak masalah, tetapi mari coba kita refleksikan sebentar ke belakang.

Saya sempat merefleksikan ini tahun lalu, pada saat melepas teman-teman pengajar muda berangkat meninggalkan Jakarta menuju tempat-tempat mereka bertugas. Mereka bertugas di desa-desa, kita semua tahu—terpencil, berbagai wilayah. Mereka berangkat dari Jakarta. Berangkatnya bukan dari stasiun Gambir, tapi dari airport Cengkareng, yang namanya Soekarno-Hatta.

Setelah mereka berangkat, saya berjalan pulang naik mobil, dan di situ saya masih ada bayangan anak-anak yang barusan dilepas, barusan berangkat, meninggalkan ke pelosok. Mereka memiliki peluang untuk hidup nyaman di kota-kota, berkarir di tempat-tempat enak, dan mereka memilih untuk berada di pelosok. Tapi airport tempat melepas itu, namanya Soekarno dan Hatta.

Soekarno dan Hatta memiliki seluruh persyaratan untuk hidup nyaman, sejahtera, bagi dirinya dan keluarganya, tapi yang mereka pilih justru jalan yang sulit. Mereka tidak pilih untuk hidup nyaman sejahtera. Mereka memilih untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dan hari ini, di tiap langkah yang kita lakukan, ada jejak pahalanya. 

Mereka orang-orang yang melihat kesulitan dalam perspektif yang positif. Mereka memiliki seluruh persyaratan untuk pesimis. Punya persyaratan untuk pesimis. Bagaimana tidak? Coba kalau kita bayangkan Indonesia tahun 45. Barangkali teman-teman di sini kalau saya boleh tanya: ada tidak yang tahu, berapa jumlah SMA tahun 45? How many higschool was in this country in 1945? How many? Ada yang mau tebak? Sembilan puluh dua. We had only 92 highschools across the archipelago. How many middle schools? Three hundred and thirty two. Tiga ratus tiga puluh dua SMP in a population of 70 million individuals. Tujuh puluh juta, sembilan puluh dua SMA, tiga ratus tiga puluh dua SMP, dan buta hurufnya: 95%.

Kalau Anda menjadi pemimpin di masa itu, Anda menjadi pejuang di masa itu, Anda memiliki seluruh persyaratan untuk pesimis. Ada di situ persyaratan pesimisnya: rakyat tak bisa baca-tulis, tak terdidik. Saya sering malu membayangkan begini: kalau diberikan secarik kertas, “Tolong tulis nama Anda”—nggak sanggup. Tapi kalau dikasih pistol, saya siap bertarung. Kumpulkan massa, siap kumpulkan. Kasih bambu, siap diruncingkan. Ikut perang berhasil, tapi beri secarik kertas, tulis nama sendiri tidak sanggup. Persyaratan pesimis itu ada, tapi mereka memilih untuk optimis.

Mereka memilih untuk melihat kesulitan dengan perspektif yang positif. Efeknya apa? Optimisme mereka menular.

Optimism is very contagious. Optimisme mereka itu menular kemana-mana. Dan anak-anak muda republik ini mengalami keterjangkitan optimisme yang luar biasa. Mereka mewarnai sebuah gelombang baru. Ada gelombang baru, yang di sana menuju Indonesia yang lebih baik.

Hari ini, kita menyaksikan gelombang baru ini mulai muncul. Gelombang baru ini mulai tampak. Dan peluang ini, bisa dimanfaatkan. Ketika saya menyebut pesimisme, siapa yang balik banyak menggandakan pesimisme?

Like it or not: our media.

Media kita, suka tidak suka, yang paling banyak menggandakan. Apalagi kalau kita lihat media televisi. Anda lihat media televisi, laporan televisi sore hari, maka saat itu kita menyaksikan Indonesia ini suram. Indonesia ini suram. Di sini, menurut kami, sebuah tantangan bagi kita semua.

Teman-teman yang berada di blogger community, hari ini, you have opportunities to challenge the wave of pessimism dengan the new wave of optimism. Dengan pandangan yang berbeda.

Saya menceritakan sedikit anak-anak pengajar muda. Para pengajar muda, yang ditempatkan di sana, sehari-hari mereka menghadapi masalah. Bagaimana tidak? Di lingkungan yang secara pendidikan tertinggal, secara ekonomi rendah, lokasi terpencil, dan sehari-hari mereka harus menghadapi masalah sendirian.

Tetapi, Anda perhatikan, saya perhatikan, apa yang mereka tulis dalam blog-blognya adalah the bright side of this republic. Sisi terang di republik ini. Mereka bisa menuliskan di blognya itu keluh-kesah, problem, hal-hal yang membuat kita pembacanya merasa this country has no future. Tapi yang mereka lakukan apa?

Mereka menuliskan cerita anak-anak cemerlang yang bisa menjadi harapan kita untuk masa depan. Mereka menggunakan blog-blog ini, untuk menggandakan optimisme. Mereka tidak menggunakan blog untuk mematikan optimisme, apalagi untuk menyebarkan pesimisme. Itu berbeda sekali.

This is our media.

This is in our control, and let’s spread the word.

Mari kita gandakan pesan yang positif itu. Ini yang sekarang menjadi tantangan bagi kita. Nah, yang menjadi masalah, hadirin sekalian, mengapa kita harus optimis tentang Indonesia? Why? Why should we be optimist?

Apa… apa kita punya persyaratan untuk optimis?

Kalau kita berbicara persyaratan, teman-teman sekalian, hari ini kita berkumpul di tempat yang seperti ini, di Epicentrum ini, Anda bayangkan 40 tahun yang lalu, 50 tahun yang lalu, tempat ini ada tidak?

These are sign of accomplishment! Suka tidak suka, kita biasanya bertanya: pertanyaan pertama,who owned it? Oke? Siapa yang punya? Kita biasanya tidak tanya, siapa yang membangunnya? Dikerjakan siapa? Para insinyur kita. Yang mendesain, yang mengerjakan, dan begitu banyak sign of accomplishment yang kita lewatkan.

Kita, lebih suka mendiskusikan hal-hal yang membuat kita merasa pesimis. Karena itu, kenapa kita harus optimis? Kita melihat ada begitu banyak sign of accomplishment, tanda-tanda keberhasilan, tanda-tanda peraihan, tapi kita sering memilih untuk tidak memperhatikan itu.

Dunia, hari ini, melihat Indonesia dengan perspektif yang positif; tidak pernah terjadi dalam sejarah republik ini, di mana ada pandangan yang hampir sama tentang prospek masa depan Indonesia dibanding beberapa tahun terakhir ini. Tidak pernah. Sebelumnya, dunia memandang kita dengan penuh pertanyaan.

Saya ingat, tahun 99 atau 2000, Indonesia pernah disebut sebagai negara yang “messy”. Negara yang messy-state, negara yang agak berantakan. Ditulis oleh seorang penulis yang sangat terkenal. Dan pada saat itu, ada kekhawatiran yang legitimate. Mungkinkah Indonesia tetap menjadi satu kesatuan?

Sebelumnya, kita tidak pernah memiliki ancaman. Ancaman separatisme itu tidak ada. Yang ada konflik lokal. Tapi tahun 2000-an kita punya ancaman itu. Kita sudah lewati 11 tahun. Semua orang yang memandang Indonesia dengan pesimis tahun 2000, hari ini, mereka harus merevisi pandangannya. Hari ini mereka harus mengubah pandangannya. Dari dunia internasional, ada pandangan yang luar biasa positif.

Tapi di sisi lain, saya bisa sebutkan daftarnya. Tapi saya tidak usah sebutkan satu-satu. Mereka memandang kita dengan perspektif positif atau optimis. Tetapi yang tidak kalah menarik, teman-teman, di sini sekarang, yang Anda berada di sini, menurut saya Anda-lah yang menjadi sumber mengapa kita harus optimis.

Anda-lah yang menjadi sumber kenapa kita harus optimis. Anak-anak muda yang dalam pandangan kami “siuman”. Anak-anak muda yang siuman, yang tidak terbius oleh nafsu-nafsu murahan jangka pendek. Anak-anak yang siuman inilah yang bisa kita harapkan untuk Indonesia masa depan. Orang-orang yang sadar tentang perspektif Indonesia masa depan. Dan teman-teman sekalian, saya ingin kita sama-sama melihat. Berhentilah kita melihat Indonesia dalam perspektif kolonial.

Berhenti melihat Indonesia dalam perspektif kolonial. Kalau perspektifnya kolonial, yang diperhatikan pasti sumber daya alam. Pasti. Kenapa kita hanya punya 5% orang melek huruf? Ya, karena kolonial tidak berminat mendidik bangsa. Mereka berminat mengambil sumber daya alam. Hari ini, lebih banyak dari kita yang tahu jumlah barrel minyak yang diproduksi per hari daripada jumlah guru yang ada di seluruh Indonesia.

Kita sering lebih tahu jumlah mineral yang dikeruk daripada jumlah sekolah yang ada di Indonesia. Kita lebih tahu tentang kandungan protein mineral daripada kualitas guru Indonesia. Poinnya adalah harapan kita pada Anda dan harapan kita pada manusia Indonesia yang tercerdaskan dan tercerahkan.

Banyak orang pendidik tapi belum tentu terdidik lalu tercerahkan. Orang yang tercerahkan dan terdidik contohnya adalah para pendiri republik ini. Mereka sudah mampu melihat dirinya melampaui kepentingan sempit pribadi dan kelompok. Mereka terdidik dan tercerahkan.

Karena itu, teman-teman sekalian, kalau Anda datang ke airport Cengkareng dan Soekarno-Hatta, jangan Anda lupakan nama itu. Karena mereka, mirip dengan kita sekarang. Mereka termasuk orang-orang yang terdidik tercerdaskan di masa begitu banyak orang belum mendapatkan pendidikan.

Hari ini, teman-teman, yang disebut pendidikan tentu masih harus kita kembangkan, tapi yang tidak kalah penting adalah ada dunia baru yang disebut dunia online, dunia virtual ini. Saat ini, Indonesia termasuk—dan tadi sudah disebutkan terus, salah satu yang populasinya, penggunanya, paling tinggi.

Terima kasih kepada para pelopor-pelopor Internet di Indonesia, blogger-blogger di Indonesia, yang membuat ini menjadi bergulir luar biasa. Tapi yang menarik, hadirin sekalian, jangan kita ulangi kekeliruan di masa lalu: masuk ke era baru tanpa mempersiapkan sebuah spirit dan ideologi baru. Spirit dan ideologi baru yang harus dibangun di sini adalah spirit untuk mengkonstruksi Indonesia dengan perspektif positif.

Kita punya arahnya, kesadaran itu harus dibangun dari sekarang. Kemarin, kita menyaksikan pendidikan menghasilkan begitu banyak sarjana, tapi kita lupa menitipkan ideologi di situ. Ideologinya adalah ideologi orang yang tercerahkan, ideologi orang yang akan melakukan langkah melampaui kepentingan dirinya.

Efeknya? Kita punya banyak sarjana, tapi kita juga punya banyak koruptor. Kita punya banyak sarjana, tapi kita punya banyak orang yang hanya mementingkan kelompok kepentingan yang sempit. Dan di sini teman-teman, saya melihat kehadiran para blogger ini merupakan energi baru bagi Indonesia. Dan saya perlu sampaikan, ketika berbicara ideas meet opportunities, teman-teman, stamina itu dibutuhkan.

Teman-teman yang berada di sini, teman-teman yang berada di wilayah virtual ini, mari jaga stamina baik-baik. Jaga stamina moral, jaga stamina fisik, dan jaga stamina intelektual. Tiga stamina ini harus dijaga terus-menerus. Yang sering kita perhatikan, adalah stamina fisik, stamina moral. Itu kadang-kadang tidak diperhatikan jadi satu. Stamina ini menjadi krusial sekali untuk membangun Indonesia di masa depan, yang lebih baik.

Kami di Indonesia Mengajar, kalau boleh saya sharing sedikit, sampai dengan 4 hari yang lalu, batchke-4 sedang dalam proses rekrutmen, kita menerima lebih dari—di batch ke-4 ini, 4.000 orang pendaftar. Padahal untuk slot yang hanya 72, dan ini belum ditutup. Jadi mungkin bisa lebih dari 6.000 atau 7.000, setelah ini nanti ditutup pendaftarannya. Dan itu artinya, dalam 4 periode ini, sudah lebih sejauh ini, sudah lebih dari 15.000 orang menyatakan siap untuk menjadi guru di pelosok Indonesia selama 1 tahun.

Yang berangkat memang tidak banyak, tapi bukan yang berangkat yang menjadi perhatian sekarang. Yang menjadi perhatian adalah mereka yang menyatakan siap untuk ikut. We, so far, we have no less than 15,000 people, applying to serve as a teacher in a remote area where there is no electricities, minimum cellphone signals, or running water.

Ini merupakan—this is the energy that we’re seeing. We’re seeing the new breed of Indonesians. Orang-orang muda yang mau memberikan dirinya lebih dari sekedar mencari kepentingan karir jangka pendek. Nah, ini teman-teman, yang ingin saya share di sini.

Mereka ini representasi dari kita semua. Dan inilah yang barangkali kita perlu bayangkan. Ketika teman-teman berada di wilayah blog, Anda menulis sesuatu, tulisan Anda will stay there forever. Akan tinggal di situ forever. Your son, your daughter, your grandchildren will be reading what you write today. So, one thing that I can share di sini, make them proud of what your write today. Make them proud of what you write today.

Jangan bikin mereka malu atas apa yang Anda tulis hari ini. Dan itu artinya, tulislah pesan-pesan, tulislah tentang ekspresi-ekspresi yang kita bisa membuat masa depan kita menjadi lebih cerah.

Hari ini kita sering lupa, kalau nge-twit juga ada rombongan galau. Kegalauan itu menjadi hashtagtersendiri. It’s okay to have that side. It’s okay. Tapi jangan lupa, of the other side, of optimism. Apa yang Anda ekspresikan hari ini, akan dibaca oleh anak-anak kita. Dan di sini teman-teman, seperti juga dikatakan para pengajar muda, kita ingin sekali satu saat kita bisa mengatakan: I have done something for my country.

I have done something for my country. Ini yang sekarang seringkali kita lupa. Bahwa apa yang kita kerjakan sebenarnya memiliki efek untuk Indonesia kita. Dan ini, teman-teman sekalian, tren perubahan yang luar biasa, cepat seperti sekarang, menularnya… efeknya luar biasa.

Harapan kita pada perubahan, mau tidak mau, akan dititipkan pada anak-anak muda. Pada anak-anak muda kita akan titipkan harapan perubahan. Tapi jangan pernah berpikir bahwa anak muda itu adalah dari sisi usia. Pada anak-anak muda, pada orang-orang muda, yang diperlukan dari anak muda bukan usianya. Kalau cuma usianya, sebagian dari kita bisa nggak masuk kategori muda.

Menurut UN, karena muda menurut UN itu kalau tidak salah di bawah 25 tahun. Kita banyak yang tidak masuk kriteria muda. Tetapi, yang saya maksud dengan muda, apa sih yang menarik dari anak muda? Yang menarik dari anak muda, adalah kebaruannya. Kebaruannya yang menarik dari anak muda.

Anak muda, bila tidak membawa kebaruan, dia orang tua. Dia orang tua. Anak muda yang tidak bawa kebaruan, dia orang tua. Anybody who is young, that is not bringing ‘newness’ is an old people. Is an old people. Sementara, orang yang berusianya tua, tapi dia membawa kebaruan, maka dia sesungguhnya orang muda. Kebaruannya itu yang menjadi kunci anak muda.

Anda di sini menjadi blogger community baru, you have the opportunity. Anda memiliki peluang untuk memunculkan kebaruan itu. Dan di sinilah kemudian ide dan gagasan harus dimunculkan. Saya sering suka mengatakan pada teman-teman: let’s think like an alien, but let’s act like a native.Mari kita berpikir seperti orang luar angkasa sana, berpikir berbeda, berpikir outside the box, tetapi bertindak seperti kita ini orang-orang yang sangat membumi.

Dan ini yang bisa mendorong perubahan. Jadi besar sekali harapan kita pada teman-teman yang berada di blogger community. Dan saya melihat di sini ada sebagian yang datang dari ASEAN. Ada yang dari Brunei, ada yang dari Malaysia, ada yang dari Singapur, saya juga tadi barusan mengatakan, ASEAN adalah tempat masa depan Asia. The future of Asia is in ASEAN. In South East Asia. That’s the future of ASEAN.

Orang sering melihat Utara. China, yes, China will be big. Ustoppable. Tapi, as a community, that is a big question mark. Jepang dengan Cina, mau dijadikan sahabat, perlu waktu beberapa dekade, kalau nggak abad. Korea dengan Jepang mau dijadikan satu, very difficult. ASEAN, di sini, kita menyaksikan hubungan antar bangsa-bangsa di ASEAN, sudah terbangun dengan baik, dan sekarang G2G sudah baik, dan sekarang di blogger community, kita mulai menyaksikan the net of that community, the fabric of new South East Asia, itu sedang dibangun.

Tenun South East Asia dibangun di crowd ini. Dan di sini, saya melihat, inilah kita melihat masa depan. Mari kita ulangi sejarah para pendiri kita, Indonesia. Saya selalu mengatakan teman-teman yang berkumpul di Sumpah Pemuda tahun 28 itu orang-orang pemberani.

Kenapa mereka pemberani? Karena mereka berani untuk menyepakati satu bahasa yang bukan bahasa ibunya. Anda bayangkan kalau saya dari Jogja, kalau saya dari Jogja ikut dalam kongres itu, mewakili Jong Java, misalnya, lalu pulang ke Jogja, dan orang-orang di Jogja akan tanya sama saya: itu bahasa Jawa kamu kemanakan? Kenapa diterima bahasa orang Melayu sana?

It is not easy menerima sebuah bahasa. Eropa, sampai hari ini, menggunakan lebih dari 20 bahasa resmi sebagai satu union. Seluruh dokumen dalam pertemuan EU, seluruh pembicara dalam pertemuan EU, harus diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa di Uni Eropa. Ongkosnya luar biasa mahal, belum the lost in translations—yang hilang.

Indonesia hari ini, mempunyai satu bahasa yang sama, Bahasa Indonesia, dan sekarang ASEAN punya kesepakatan bahasa yang sama, kita akan memasuk kepada era di mana di sini orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengetahui ambang batas di mana kepentingan mereka tidak diteruskan. Ini adalah sebuah community yang luar biasa.

Jadi, teman-teman sekalian, saya ingin menggarisbawahi dan mengakhiri, bahwa peluang untuk membuat Indonesia optimis ada di depan kita semua. Sekarang, it is all up to us. Kita akan ambil peluang untuk membuat Indonesia lebih optimis dan menyebarkannya, karena virus optimisme itu menular. Dan bila Anda menemukan orang-orang yang pesimis, katakan: kenapa Anda berpikir pesimis?

Tanyakan itu.

Saya sering sekali kalau ada wawancara, “Pak, apakah ini tanda-tanda Indonesia gagal?”

Saya balik tanya, “Kenapa kok tidak tanyanya begini: apa tanda-tanda Indonesia berhasil?”. Why do we ask sign of failures, instead of asking sign of achievement?

Ini mindset. Ini cara pandang.

Nah, mudah-mudahan kita semua yang di sini bisa mengambil kesempatan untuk berpikir optimis, bertindak optimis, dan ada banyak jutaan anak muda di sana yang menunggu inspirasi-inspirasi yang positif dari blog-blog yang akan Anda tulis, dari foto-foto yang akan Anda pasang, dan itu akan mudah-mudahan di kemudian hari dicatat. Your son, your daughter, your grandchildren will write that in their memory bahwa orang tua saya, keluarga saya, termasuk generasi awal yang membuat Indonesia kita berubah menjadi lebih optimis dan lebih positif di masa depan.

Barangkali ini yang bisa saya sampaikan sebagai sharing pada teman-teman sekalian. Bagi teman-teman yang kembali ke berbagai wilayah di Indonesia, kabarkan kepada dunia, betapa kita punya syarat untuk optimis. Dan bagi teman-teman yang kembali ke daerah, tunjukkan kepada wilayah-wilayah di manapun teman-teman beraktivitas, bahwa ada begitu banyak orang-orang sehati, orang-orang yang memiliki pandangan sama, yang akan melihat Indonesia dengan perspektif yang lebih baik.

Terima kasih, ada kurangnya mohon maaf.

Wassalamualaikum wr. wb.

——–

*) audio dalam versi .mp 3 dapat didengarkan di sini.

Sumber Tulisan: http://beradadisini.com/2011/12/05/orasi-pak-anies-baswedan-dalam-onoff-2011/


tes from diaspora, bung :p

Gregory dropped 10 days to bring the calendar back into synchronization with the seasons. Lilius originally proposed that the 10-day correction should be implemented by deleting the Julian leap day on each of its ten occurrences during a period of 40 years, thereby providing for a gradual return of the equinox to 21 March. However, Clavius’s opinion was that the correction should take place in one move, and it was this advice which prevailed with Gregory. Accordingly, when the new calendar was put in use, the error accumulated in the 13 centuries since the Council of Nicaea was corrected by a deletion of ten days. The last day of the Julian calendar was Thursday, 4 October 1582 and this was followed by the first day of the Gregorian calendar, Friday, 15 October 1582 (the cycle of weekdays was not affected).
wiki

Lir Ilir

Lir ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar

Bocah angon bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot-iro

Dodot-iro dodot-iro lumintir bedah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore

Mumpung jembar kalangane
Mumpung padhang rembulane

Yo surako
Surak: Hiyyoo!

Kepemimpinan Blimbing - Hikmah Sunan Ampel

Tandure wus sumilir. Tak ijo royo-royo. Tak sengguh temanten anyar.

Menggeliatlah dari matimu, tutur Sunan. Siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun. Bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu. Sungguh negeri ini adalah penggalan sorga. Sorga seolah pernah bocor dan mencipratkan kekayaan dan keindahannya. Dan cipratan keindahannya itu bernama Indonesia Raya.

Kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja di atas kesuburan tanahnya yang tak terkirakan. Tak mungkin kau temukan makhluk Tuhanmu kelaparan di tengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra ini. Bisa engkau selenggarakan dan rayakan pengantin-pengantin pembangunan lebih dari yang bisa dicapai oleh negeri-negeri lain yang manapun.

Belum lagi kalau engkau nanti melihat bahwa engkau sesungguhnya bisa mendirikan IMF-mu sendiri yang engkau ambil di rahim bumi dan lautanmu. Belum lagi kalau engkau nanti menyaksikan apa yang sebenarnya diamanatkan oleh para Aulia pemelihara pulau Jawa, bahkan oleh leluhur-leluhurmu yang justru engkau kutuk-kutuk. Belum lagi kalau engkau nanti menyadari bahwa negerimu ini bukan saja mampu dengan gampang membebaskan dirinya dari krisis dan hutang-hutang, namun bahkan bisa menjadi negeri adikuasa — seandainya SDM kita tidak berkarakter tikus-tikus.

Abacadabra sungguh kita memang telah tak mensyukuri rahmat sepenggal sorga ini. Kita telah memboroskan anugerah Tuhan ini melalui cocok tanam ketidak-adilan dan panen-panen kerakusan.

Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi

Sunan Ampel tidak menuliskan: “Ulama, Ulama”, “Pak Jendral, Pak Jendral”, “Intelektual, Intelektual” atau apapun lainnya, melainkan “Bocah Angon, Bocah Angon…” Beliau juga tidak menuturkan : “Penekno sawo kuwi”, atau “Penekno pelem kuwi” atau buah apapun lainnya, melainkan “Penekno blimbing kuwi”.

Blimbing itu bergigir lima. Terserah tafsirmu apa gerangan yang dimaksud dengan lima. Yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin ini, agar blimbing bisa kita capai bersama-sama. Dan yang memanjat harus “Cah Angon”. Tentu saja ia boleh seorang doktor, boleh seorang seniman, boleh kiai, jendral, atau siapapun saja — namun dimilikinya daya angon; kesanggupan untuk menggembalakan. Karakter untuk merangkul dan memesrai semua pihak. Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama. Pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan.

Bocah Angon adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan. Bocah Angon adalah waliyullah, negarawan sejati, ‘orang tua yang jembar’, bukan Lowo Ijo yang gemagah, bukan Simorodra yang mengaum-aum seenak napsunya sendiri.

Emha Ainun Nadjib

(Source: maiyahkc.blogspot.com)

Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

(Sapardi Djoko Damono, 1989, kumpulan sajak “Hujan Bulan Juni”)
When you fall in love, it is a temporary madness. It erupts like an earthquake, and then it subsides. And when it subsides, you have to make a decision. You have to work out whether your roots are become so entwined together that it is inconceivable that you should ever part. Because this is what love is. Love is not breathlessness, it is not excitement, it is not the desire to mate every second of the day. It is not lying awake at night imagining that he is kissing every part of your body. No… don’t blush. I am telling you some truths. For that is just being in love; which any of us can convince ourselves we are. Love itself is what is left over, when being in love has burned away. Doesn’t sound very exciting, does it? But it is!
Iannis

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya.

Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh. Plato (427 - 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir.

Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis. Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia.

Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia.

Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko. Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya.

Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat.

Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia.

Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki.

Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.

Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia.

Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya

Nusantara sebagai Geopolitik Dunia Internasional/atlantis

Pada suatu hari sebuah kota terancam wabah, yang menjalar dari kota sekitarnya. Di rumah-rumah sakit, para petugas kesehatan siap siaga dan waspada, sebab tanda-tanda wabah sudah menyerang jelas.

Syahdan, ditemukanlah seorang sakit, dengan penyakit yang bisa mempercepat wabah itu merebak. Apakah dia harus segera diobati dan disembuhkan? Pertanyaan ini muncul karena pada saat itu diketahui juga bahwa si pasien ini perampok. Pemimpin team dokter memutuskan: obati dia, tubuhnya, agar tidak mempercepat penyakit menular yg sedang mulai menyerang.

Bahwa dia perampok, itu urusan nanti: sambil dirawat, dijaga polisi.

Wabah itu adalah krisis moneter yg menjelang akhir Nopember 2008 melanda seluruh dunia. Si perampok yang sakit itu Bank Century. Team kesehatan itu Gubernur BI dan Menteri Keuangan.

Setelah Bank Century diselamatkan, wabah bisa mereda, bahkan pelan-pelan menyingkir.

Keadaan aman. Tindakan menyelamatkan Bank Century bahkan dipuji jika kita baca kliping media cetak sekitar akhir 2008. Ekonomi Indonesia tak terhantam krisis sseperti negeri tetangga (Singapura pertumbuhan ekonomi minus 9%, sementara indonesia plus 4%).

Syahdan, setelah sembilan bulan tak terdengar keluhan atau kritik apapun tentang bail-out Bank Century, tiba-tiba menjelang akhir Agustus mulai bertiup kecaman kepada Sri Mulyani. Kenapa baru saat itu para politisi menyerang, dan bukan segera setelah bail-out dilakukan minggu ketiga Nopember 2008? Bahkan kenapa soal Bank Century tak dijadikan senjata dalam kampanye selama pemilihan umum legislator dan presiden? Kenapa setelah pilpres, padahal kata JK sekarang, waktu itu dia sudah tidak setuju?

Tapi itu tak ditanyakan oleh media. Terutama oleh stasiun TV yg berpengaruh membentuk opini publik. Tidak diteliti kembali keadaan perekonomian ketika bail-out dilakukan. Baru setelah sekarang digali kiliping media akhir tahun 2008, ketahuan: para politisi yg kini menyerang kebijakan itu, di tahun itu ternyata berteriak ttg bahaya krisis dan perlunya tindakan segera. Kalau kini mereka bilang sebaliknya, waktu itu krisisnya tak gawat, mereka (termasuk JK) bohong dan menyesatkan rakyat.

Goenawan Mohamad

Ruang Waktu Maiyah

Indonesia dengan suku Jawa mayoritas dan mendambakan pemimpin yang kuat? Nanti dulu. Pertama, tidak pernah jelas apa itu “suku Jawa”. Apa batasannya: bahasa (yang ternyata tak satu. Budayanya: yang ternyata beragam? Orang Tegal, Banyumas, Madiun, Malang, Jember, masing-masing berebda dari Solo, dan Solo pun bebeda dari Yogya. Yang disebut “suku Jawa” berasal dari konstruksi administratif Hindia Belanda (“negara taksonomik”, kata seorang antropolog terkenal) dan diberi “ideologi” oleh para aristokrat Solo di abad ke-19.. Saya kira hal yang sama terjadi di “suku Dayak” dan lain-lain. Kita sudah demikian latah dan tak pernah bertanya lagi: apa yang disebut “suku”?

Kedua: kita mudah latah juga dengan “esensialisme” — satu sikap yang sejak 20 tahun terakhir dikecam dan dikaitkan dengan hal-hal buruk seperti rasisme. “Esensialisme” adalah ketika kita mengatakan “orang Jawa adalah X”, “orang Madura adalah Y”,”orang Cina adalah Z”, dsb. Seakan-akan ada unsur yang esensial dalam sebuah himpunan manusia yang kekal, tidak akan pernah berubah.

Goenawan Mohamad

Saya beruntung sampai saat ini saya dianugerahi oleh Allah SWT seabreg selera musik yang beraneka ragam, sehingga saya menikmati karya Sergei Rach-maninoff atau juga Maurice Ravel, akibat bergaul dengan pemain orkestra saat rekaman string untuk album-album Dewa19. Saya juga tidak tahu kenapa saya menggemari musik R&B, mungkin mencari format musik fusion yang memudar di era ’90-an, maka saya menggemari TLC dan Faith Evans. Saya beruntung bisa alat musik kibor dan gitar sehingga memudahkan saya memahami musik Steve Vai sekaligus musik elektronik Chemical Brothers. Karena saya mengerti gitar, maka saya mengagumi dan mengadopsi The Edge dan Brian May. Dan setelah saya lakukan riset lagi, memang musisi yang menguasai gitar dan kibor akan menghasilkan karya yang lebih beraneka ragam ketimbang musisi yang hanya menguasai satu alat musik.

Dan keberuntungan saya yang terbesar adalah selalu mendapatkan kebetulan dalam memproduksi album. Kebetulan dapat nada-nada bagus. Kebetulan dapat lirik-lirik komersial. Kebetulan dapat sound-sound bagus. Kebetulan dapat ide bagus buat aransemennya. Kebetulan ada yang beli kaset/ CD-nya. Kebetulan ada yang mengaktivasi RBT-nya. Kebetulan ada ‘kebetulan’ yang lainnya.

Ahmad Dhani

Dhani pernah cerita waktu memakai lambang Tuhan di Laskar Cinta, ada orang fanatik mendatangi Dhani dan ngomong, “Ini lambang Tuhan!” Dhani cuma ngomong ke temannya, “Oh, begini susahnya jadi John Lennon.” Gila! Mungkin dia banyak menulis cinta karena hatinya percaya bahwa cinta bisa mengubah segalanya. Mungkin cara mengatakannya berbeda. Kadang-kadang orang menganggapnya terlalu arogan.

Tapi kalau kita mengenalnya lebih dekat, he’s a very cool dude. Saat Nidji era album pertama, kami selalu takjub ketika bertemu dengan musisi-musisi senior, selalu ingin tahu lebih dekat. Ada yang pernah wanti-wanti ke saya, Kalau dengan Dhani, siap-siap sakit hati. Tapi tidak seperti itu yang saya alami bersama Nidji. Yang membuat saya tertawa, waktu saya salaman, dia ngomong, Lo salaman mulu. Ya sudah.

Giring Nidji